Rainbow Arch Over Clouds
Tampilkan postingan dengan label Semester I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semester I. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Federalism --

Layaknya bentuk negara kesatuan atau negara kerajaan konstitusional, maka perbincangan tentang federalisme mestilah diletakkan secara proporsional sebagai pembicaraan tentang teori-teori dan implementasi bentuk negara dalam ilmu Negara dan ketata negaraan. Lebih dari itu, federalisme mesti dibincangkan sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Bukan sekadar memposisikannya secara vis a vis berlawanan dengan bentuk negara kesatuan apalagi disertai dengan sentimen-sentimen sempit kekhawatiran disintegrasi secara berlebihan.

Pilihan terhadap federalisme sepatutnya dibuka ruang publik untuk membicarakannya, seiring dengan melepaskan segala macam ketakutan atau phobia seakan-akan federalisme adalah pengkhianatan atau musuh dari integrasi nasional

Lalu, apakah yang dimaksud federalisme??

Federalisme adalah faham yg menganjurkan pembagian negara atas bagian-bagian yg berotonomi penuh mengenai urusan dalam negeri. Sebagai suatu gagasan yang sebenarnya sah-sah saja jika dibicarakan secara terbuka sebagai pilihan bentuk kenegaraan, maka federalisme bukan suatu yang tabu untuk dibicarakan, karena federalisme merupakan salah satu pilihan bentuk kenegaraan dari sekian banyak bentuk kenegaraan yang ada.

Sebagai pilihan bentuk negara, maka federalisme perlu ditimbang sebagai pilihan alternatif kiranya bagi kemunafikan dalam bingkai negara kesatuan. Kenapa demikian,… karena toh, sampai saat ini bentuk-bentuk otonomi khusus beberapa daerah senyatanya sudah berjalan ke arah federalisme dalam bentuk yang lebih soft. Pun, jika federalisme dikhawatirkan memicu disintegrasi, maka itu merupakan asumsi yang sepenuhnya salah. Karena disintegrasi dalam berbagai kasus malah dipicu oleh ketidakpuasan terhadap jalannya pemerintahan, ketimpangan, ketidakadilan dan diksriminasi ketimbang federalisme.

Maka, boleh jadi federalisme hadir sebagai solusi untuk mempertahankan integrasi dalam bentuk negara-negara bagian yang lebih mandiri, berharkat dan bermartabat serta manusiawi. Kenapa saya katakan seperti itu, karena kasusnya (meskipun mungkin agak parsial) selama dalam bingkai kesatuan, tak lebih sekedar mempertahankan integrasi ditengah bara api ketidak-adilan, ketimpangan, diskriminasai dan ketertindasan dalam hubungan pusat dan daerah periferi. Meskipun daerah periferi faktanya menyumbang lebih dalam berbagai hal bagi pusat.

Beberapa negara besar dan maju, yang berbentuk federalisme, bentuk kenegaraannya tidak mesti juga secara primordial memperlihatkan kecenderungan disintegrasi, malah terkadang justru saling menguatkan antara pemerintah federal pusat dan negara bagian, bahkan negara bagian dapat berkembang sesuai dengan karakteristik lokal dan segala potensinya. 

Refleksi Delapan: Berbicara Sejenak Mengenai Partai Politik

*
Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal finansial, memiliki platform atau haluan politik tersendiri, mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut menyumbang political development sebagai suprastruktur politik.

Miriam Budiardjo mendefinisikan partai politik sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

Partai politik mempunyai posisi (status) dan peranan (role) yang sangat penting dalam setiap sistem demokrasi. Partai memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara proses-proses pemerintahan dengan warga negara. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa partai politiklah yang sebetulnya menentukan demokrasi, seperti dikatakan oleh Schattscheider (1942), “Political parties created democracy”. Karena itu, partai merupakan pilar yang sangat penting untuk diperkuat derajat pelembagaannya (the degree of institutionalization) dalam setiap sistem politik yang demokratis. Bahkan, oleh Schattscheider dikatakan pula, “Modern democracy is unthinkable save in terms of the parties

Secara normatif, fungsi partai politik adalah melakukan pendidikan politik, mengartikulasikan kepentingan masyarakat, dan melakukan integrasi politik. Fungsi partai politik memegang peran sentral dalam infrastruktur kehidupan bernegara. Sebagai contoh, fungsi pendidikan politik tidak hanya bagi kader partai, tetapi juga masyarakat luas agar terwujud masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Dengan demikian, partai politik sebagai ranah agregasi kepentingan, sekaligus merupakan ruang partisipasi warga negara.
Partai juga mempunyai kontribusi besar dalam membangkitkan kesadaran dan menciptakan partisipasi aktif serta kepercayaan rakyat kepada sistem formal kenegaraan. Semakin baik fungsi pendidikan politik partai politik, baik bagi kader parpol maupun masyarakat, kian aktif dan kondusif pula relasi negara dan masyarakat. Fungsi artikulasi kepentingan dimanifestasikan parpol sebagai perpanjangan suara rakyat, sebagai institusi formal negara yang menyerap aneka kepentingan dan kebutuhan rakyat yang harus diperjuangkan melalui mekanisme perwakilan dalam bentuk peraturan perundang-undangan atau kebijakan. Kepada parpol, rakyat menitipkan amanah untuk diperjuangkan dan diwujudkan.

Di Indonesia jumlah partai politik yang mencapai 85 buah parta dijadikan alat untuk menjembatani para elit politik untuk mencapai kekuasaan politik dalam negara. Biasanya partai politik ini adalah organisasi yang mandiri dalam hal finansial, memiliki platform atau haluan politik tersendiri, mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut menyumbang political development sebagai suprastruktur politik.


Manusia Purba Indonesia: Sekedar Intermezo



Manusia purba Indonesia ada tiga jenis di Indonesia yaitu:

* Meganthropus Paleojavanicus,
* Pithecanthropus Erectus,
* Homo
Ciri–ciri manusia purba Indonesia

 Meganthropus Paleojavanicus
* Memiliki tulang pipi yang tebal
* Memiliki otot kunyah yang kuat
* Memiliki tonjolan kening yang menyolok
* Memiliki tonjolan belakang yang tajam
* Tidak memiliki dagu
* Memiliki perawakan yang tegap
* Memakan jenis tumbuhan

Hasil budayanya berupa 
1. Kapak perimbas
2. Kapak penetak
3. Kapak gengam
4. Pahat gengam
5. Alat serpih
6. Alat-alat tulang
Pithecanthropus Erectus
* Tinggi badan sekitar 165 – 180 cm
* Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
* Bentuk tubuh & anggota badan tegap
* Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
* Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
* Bentuk tonjolan kening tebal
* Bentuk hidung tebal
* Bagian belakang kepala tampak menonjol

Hasil budayanya berupa 
1. Kapak perimbas
2. Kapak penetak
3. Kapak gengam
4. Pahat gengam
5. Alat serpih
6. Alat-alat tulang

Homo
* Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
* Tinggi badan antara 130 – 210 cm
* Otot tengkuk mengalami penyusutan
* Muka tidak menonjol kedepan
* Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna


Hasil budayanya berupa
1. Kapak gengam / Kapak perimbas
2. Alat serpih
3. Alat–alat tulang

Pengantar Antropologi: Studi Umum mengenai Kebudayaan


ada yang tahu gambar kain apa diatas??
jika ada yang menjawab itu adalah kain tenun ikat khas daerah Sumba,maka jawaban kalian tidak salah. 

Yups, sesuai dengan namanya, kain tenun yang cantik ini memang berasal dari daerah Sumba, NTB. Karena cara pembuatannya yang khas, yaitu dengan diikat, maka dinamakan kain tenun ikat. 
Ini adalah satu dari sekian banyak kekayaan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Emm, lalu ada yang tahu tidak apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu sendiri??

Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. 
Sedangkan Koentjaraningrat, seorang antropolog berdarah Indonesia, mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. 
Secara sederhana, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh masyarakat dan menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut. 


Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya:
  • Hidup-kebatinan manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adat-istiadatnya,pemerintahan negeri, agama atau ilmu kebatinan
  • Angan-angan manusia, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan.
  • Kepandaian manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).
1.1. Kebudayaan berdasarkan wujudnya
 J.J. Hoenigman membagi wujud kebudayaan menjadi tiga,yaitu:
  • Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama
  • Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Contoh kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
1.2.2 Kebudayaan secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Kebudayaan Daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama lain.
Kebudayaan Lompat Batu di Nias

Dari pola kegiatan ekonomi kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam yaitu:
  • Kebudayaan Pemburu dan Peramu
Kelompok kebudayaan pemburu dan peramu ini pada masa sekarang hampir tidak ada. Kelompok ini sekarang tinggal di daerah-daerah terpencil saja.
  • Kebudayaan Peternak
Kelompok kebudayaan peternak/kebudayaan berpindah-pindah banyak dijumpai di daerah padang rumput.
  • Kebudayaan Peladang
Kelompok kebudayaan peladang ini hidup di daerah hutan rimba. Mereka menebang pohon-pohon, membakar ranting, daun-daun dan dahan yang ditebang. Setelah bersih lalu ditanami berbagai macam tanaman pangan. Setelah dua atua tiga kali ditanami, kemudian ditinggalkan untuk membuka ladang baru di daerah lain.
  • Kebudayaan Nelayan
Kelompok kebudayaan nelayan ini hidup di sepanjang pantai. Desa-desa nelayan umumnya terdapat di daerah muara sungai atau teluk. Kebudayaan nelayan ditandai kemampuan teknologi pembuatan kapal, pengetahuan cara-cara berlayar di laut, pembagian kerja nelayan laut.
  • Kebudayaan Petani Pedesaan
Kelompok kebudayaan petani pedesaan ini menduduki bagian terbesar di dunia. Masyarakat petani ini merupakan kesatuan ekonomi, sosial budaya dan administratif yang besar. Sikap hidup gotong royong mewarnai kebudayaan petani pedesaan.
b. Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.

Senin, 30 September 2013

Pengantar Bahasa Inggris

 Kata Depan (Preposition)

     Digunakan untuk menyatakan tempat atau kerberadaan sebuah benda. 


Perhatikan kata depan berikut ini:
  1. in /in/= di, didalam.
  2. at /e:t/= pada.
  3. inside /insaid/= disebelah dalam, didalam.
  4. outside /autsaid/= disebelah luar, diluar.
  5. on /on/= diatas (menempel dengan benda lain).
  6. above /ebav/= diatas (tidak menempel dengan benda lain).
  7. over /ouver/= diatas (tidak menempel dengan benda lain, tapi melintas).
  8. under /ander/= dibawah (menempel dengan benda lain).
  9. below /bilou/= dibawah (tidak menempel dengan benda lain).
  10. between /bitwi:n/= diantara (dua benda).
  11. among /emang/= diantara (lebih dari dua benda).
  12. in front of /in frant of/= didepan.
  13. beside /bisaid/= disamping.
  14. behind /bihaind/= dibelakang, dibalik.
  15. across /ekros/= diseberang.
  16. next to /nekst tu/= disebelah.
  17. opposite to /apezit tu/= berhadapan dengan.
  18. by /bai/= dekat.
  19. near /nier/= dekat.
  20. nearby /nierbai/= didekat.
  21. close to /klous tu/= dekat pada.
  22. far from /far from/= jauh dari.
  23. around /eraund/= disekitar, disekeliling.
  24. in the middle of /in dhe midel of/= ditengah.
  25. on the top of /on dhe tap of/= dipuncak.
  26. at the bank of /e:t dhe benk of/= dipinggir.
  27. at the corner of /e:t dhe korner of/= dipojok.
  28. at the bottom  of /e:t dhe batem of/= didasar.
  29. dan lain-lain.

C. Contoh penggunaan Kata Depan dengan katakerja be (to be) (am, are, is): yang artinya berada.
Kalimat Positive (+):

  1. am in the library.
    Saya berada di perpustakaan.
  2. You are in the library.
    Kamu berada di perpustakaan.
  3. He is in the library.
    Dia(lk) berada di perpustakaan.
  4. She is in the library.
    Dia(pr) berada di perpustakaan.
  5. It is in the library.
    Benda berada di perpustakaan.
  6. We are in the library.
    Kita berada di perpustakaan.
  7. You are in the library.
    Kalian berada di perpustakaan.
  8. They are in the library.
    Mereka berada di perpustakaan.
  9. Tom is in the library.
    Tom berada di perpustakaan.
  10. Cindy is in the library.
    Cindy berada di perpustakaan.
D. Kalimat Negative (-)tempatkan not setelah katakerja be (am, are, is).
  1. am not in the library.
    Saya tidak berada di perpustakaan. 
  2. You are not in the library.
    Kamu tidak berada di perpustakaan.
  3. He is not in the library.
    Dia(lk) tidak berada di perpustakaan.
  4. She is not in the library.
    Dia(pr) tidak berada di perpustakaan.
  5. It is not in the library.
    Benda tidak berada di perpustakaan.
  6. We are not in the library.
    Kita tidak berada di perpustakaan.
  7. You are not in the library.
    Kalian tidak berada di perpustakaan.
  8. They are not in the library.
    Mereka tidak berada di perpustakaan.
  9. Tom is not in the library.
    Tom tidak berada di perpustakaan.
  10. Cindy is not in the library.
    Cindy tidak berada di perpustakaan.
EKalimat Interrogative (?): 
  1. Am I in the library?
    Yes, you are. atau
    No, you are not.
    -Apakah 
    saya berada di perpustakaan?
    Ya.
    Tidak.
  2. Are you in the library?
    Yes, I am.
    No, I am not.
    -Apakah saya berada di perpustakaan?
    Ya.
    Tidak.
  3. Is he in the library?
    Yes, he is.
    No, he is not.
    -Apakah dia(lk) berada di perpustakaan?
    Ya.
    Tidak.
  4. Is she in the library?
    Yes, she is.
    No, she is not.
    -Apakah dia(pr) berada di perpustakaan?
    Ya.
    Tidak.
  5. Is it in the library?
    Yes, it is.
    No, it is not.
H.  Contoh kalimat dengan kata depan menggunakan (tenses 1) simple present tense.
  1. I speak with him in front of the market.
    Saya bicara dengan dia(lk) didepan pasar.
  2. You find me behind the library.
    Kamu menemukan saya dibelakang perpustakaan. 
  3. He sits beside us.
    Dia(lk) berdiri disamping kita. 
  4. She sleeps nearby the window.
    Dia(pr) tidur didekat jendela. 
  5. We drink tea outside the house.
    Kita minum teh diluar rumah.
  6. dan lain-lain.

Hakikat, Sejarah, Pendekatan serta Studi Kemanfaatan Ilmu Geografi



Kalian sering mendengar istilah geografi, bukan?? Apa sih geografi itu?
Nah, disini terdapat definisi geografi dari ahlinya, nih!
Check this out!

Erastothenes
Si "bapak geografi" yg hidup pada abad pertama ini mengemukakan pendapatnya bahwa geografi itu berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi.  Pandangannya ini senada dengan karya- karya ciptaannya berupa lempengan- lempengan peta yang berasal dari tanah liat. Wih- wih, hebat ya!


Claudius Ptolomeus
Ptolomeus menyatakan kalau geografi merupakan ilmu yg mempelajari hal, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia dan mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu. Dia ini muridnya Erasthosthenes, lho! Pantas saja sama jeniusnya. Hehehe



Hasil Seminar dan Lokakarya di Semarang tahun 1988
 Nah, kalau yang ini baru definisi dari perkumpulan ilmuwan geografi di Indonesia! Mereka berpendapat bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.

Dari ketiga definisi itu, kita bisa menemukan apa yg dimaksud geografi itu. Yups! Secara garis besarnya nih, geografi adalah ilmu yg mempelajari tentang semuuua fenomena di bumi dari sudut pandang keruangan
Simpel, kan?? :)


Apa cukup sekedar tahu tentang definisi geografi gitu aja? Nggak, dong!

Coba yuk kita simak sejarah bagaimana ilmu geografi ini lahir dan berkembang! 

Sejarah geografi



Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi sebagai ilmu dan filosofi, dengan pemikir utamanya Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy. Bangsa Romawi memberi sumbangan pada pemetaan karena mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai; contoh pertamanya adalah Hanno sang Navigator dari Carthaginia dan satu lagi dari Laut Erythraea, keduanya selamat di laut menggunakan teknik periplus dengan mengenali garis pantai laut Merah dan Teluk Persi.
Pada Jaman Pertengahan, bangsa Arab seperti al-Idrisi, Ibnu Battuta dan Ibnu Khaldun memelihara dan terus membangun warisan bangsa Yunani dan Romawi. Dengan perjalanan Marco Polo, geografi menyebar ke seluruh Eropa. Selama jaman Renaissance dan pada abad ke-16 dan 17 banyak perjalanan besar dilakukan untuk mencari landasan teoritis dan detil yang lebih akurat. Geographia Generalis oleh Bernhardus Varenius dan peta dunia Gerardus Mercator adalah contoh terbesar.


Setelah abad ke-18 geografi mulai dikenal sebagai disiplin ilmu yang lengkap dan menjadi bagian dari kurikulum di universitas di Eropa (terutama di Paris dan Berlin), tetapi tidak di Inggris dimana geografi hanya diajarkan sebagai sub-disiplin dari ilmu lain. Salah satu karya besar jaman ini adalah Kosmos: sketsa deskripsi fisik Alam Semesta, oleh Alexander vom Humboldt.
Perlu diketahui nih, walaupun geografi bukan ilmu tertua, tetapi perkembangan dari disiplin ilmu ini berkembang dengan pesat lho! Terutama di kawasan eropa, yg pada waktu itu pemanfaatan ilmu ini digunakan untuk kepentingan ekspansi militer dan daerah jajahan. 

Untuk mempelajari geografi ini ga serumit yang dibayangkan kok! Asalkan menggunakan sudut pandang dan pendekatan yang sesuai. Apa saja pendekatan dalam studi geografi?

Seorang geografer menggunakan empat pendekatan:
1.                   Sistematis – Mengelompokkan pengetahuan geografis menjadi kategori yang jelas kemudian dibahas secara global.
2.                   Regional – Mempelajari hubungan sistematis antara kategori untuk wilayah tertentu atau lokasi di atas planet.
3.                   Deskriptif – Secara sederhana menjelaskan lokasi suatu masalah dan populasinya.
4.                   Analitis – Menjawab kenapa ditemukan suatu masalah dan populasi tersebut pada wilayah geografis tertentu.


Mempelajari geografi ini memiliki beberapa manfaat juga. Coba ya disimak.
  •                          Geografi mengajarkan dan mendidik agar siswa memiliki keterampilan
  •                                  Membaca peta dan menginterpretasikan informasi
  •                          Membantu mempelajari ekonomi dunia dengan mengetahui fenomena keruangan, dsb.